Amba Kesset 3412
Negus mangkat sebelum kabut naik.
Tahun ke-31 pemerintahan Negus Tsegaye, malam kedelapan musim kering.
Negus Tsegaye wafat di benteng Kesset pada jam ketiga malam. Gerbang ditutup sampai pagi. Ia meninggalkan seorang putra berumur sebelas tahun, dua saudara yang masing-masing memegang pasukan, dan kepala biara Hawi yang menyimpan cap kerajaan.
Kabar itu harus sampai di sembilan amba sebelum pihak lain mendahuluinya. Tugas itu jatuh kepada Selam Ayele, pelari tali termuda di istana. Ia membawa tabung kulit di punggung dan tombak pendek di sisi. Ia berangkat tanpa kuda, sebab tidak ada kuda yang bisa menyeberangi ngarai.
Catatan di pinggir naskah: setiap tali yang tergantung di tebing bisa kamu panjat. Setiap jembatan bisa kamu seberangi, atau kamu potong setelah kamu lewat.

Selam menyeberangi jembatan sebelum matahari setinggi tombak. Di bawahnya, awan masih menutup lembah.

Amba Hawi 3168
Cap kerajaan ada di biara.
Tahun ke-31, hari kesembilan musim kering, menjelang tengah hari.
Kepala biara, Abba Woldu, menerima kabar itu di gerbang atas. Ia tidak membuka tabungnya. Ia hanya bertanya siapa lagi yang sudah tahu.
Hawi tidak punya pasukan. Hawi punya cap, dan tanpa cap tidak ada negus yang sah. Sore itu tiga utusan lain mendaki dari tiga sisi tebing, masing-masing membawa permintaan yang berbeda.
Gebre terbang di depanmu. Ia hinggap di tempat yang bisa kamu capai dan menunjukkan tali yang belum kamu lihat.
Membuka pemutar video di dalam halaman.
Amba Tefra 3290
Di dataran, pelari tali menjadi penunggang.
Tahun pertama tanpa negus, awal hujan kecil.
Ras Tedla, adik negus, berkemah di Tefra dengan seribu kuda. Dataran itu cukup lebar untuk berderap setengah hari tanpa bertemu tepi tebing.
Senapan sumbu butuh waktu untuk menyala. Tombak tidak.

Di Tefra, setiap pelari diberi kuda, tombak, perisai kulit kerbau, dan senapan sumbu yang lebih tua dari dirinya. Selam memakai keempatnya sebelum musim hujan berakhir.
Sembilan amba besar dan tiga puluh amba kecil terhubung tali dan jembatan. Di dataran puncak kamu menunggang, di tebing kamu memanjat, dan senjatamu ikut ke mana pun.
Amba Qolla 2980
Di tepi Qolla, pasukan gelada tidak memihak siapa pun dan tidak memberi jalan kepada siapa pun.
Sekelompok babon gelada duduk dan berjalan di sepanjang tepi tebing amba Qolla.
Tazir, sembilan amba besar dan tiga puluh amba kecil
Kronik ini punya empat halaman terakhir.
Siapa yang akhirnya memerintah Tazir bergantung pada amba yang kamu bela. Setiap pilihan menutup jalan ke tiga pilihan lain.
Kesset
Putra negus naik takhta pada umur dua belas. Walinya yang menulis kronik.
Hawi
Cap kerajaan tidak pernah turun dari biara. Negeri diperintah dari menara lonceng.
Tefra
Ras Tedla memerintah dari pelana. Jembatan tali dipotong satu demi satu.
Darga
Para penguasa lembah naik ke amba untuk pertama kalinya, dan awan berhenti menjadi tembok.




